Kumpulan Audio Tanya-Jawab Asatidzah Ahlussunnah wal Jama'ah ~

Seorang Salafy berbicara tentang jima’ untuk bercanda sesama ikhwah?

Pertanyaan

Seorang Salafy berbicara tentang jima’ untuk bercanda sesama ikhwah?

Jawaban


Unduh Audio (180x diputar)

Pemateri

Bagikan

Audio Terkait

Bagaimana hukumnya memakai kaos bola bertuliskan Ronaldo Messi?

Bolehkah seorang orang tua menawarkan anak gadisnya kepada ikhwan yang bagus agamanya, […]

Bagaimana cara berinteraksi dengan tetangga atau lingkungan sebagai seorang istri atau wanita, […]

Apakah kafir wanita yang tidak menerima ayat al-qur’an tentang poligami ?

Apa tindakan seorang istri yang selalu melihat suaminya bermaksiat? Apakah saya salah […]

Manakah yang harus dipilih antara seorang gadis dan seorang janda? Yang mana […]

Apa nasehat Ustadz bagi orang tua yang masih memondokkan anaknya ditempat yang […]

Apakah seorang wanita yang sudah kenal dakwah, bercadar, tapi kalau mendengar kajian […]

Min fadhlikum. Apakah keharoman memandang lawan jenis ini dikecualikan dan menjadi boleh […]

Bagaimana hukumnya seorang istri jika dinasehati oleh suaminya ketika berkumpul bersama ummahat […]

Audio Terbaru

Ana pernah membaca Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh bahwa apabila qunut subuh walaupun […]

Ana mendengar kabar bahwa syiah mengadakan kudeta revolusi wilayatul faqih di Indonesia, […]

Ustadz, bagaimana dengan seorang yang tidak mau hadir di majlis ilmu asatidzah, […]

Apakah disyariatkan ketika sholat jumat khutbahnya dengan berbahasa arab?

Apakah termasuk munafiq orang yang sudah tau dalilnya bahwa yang dilakukan itu […]

Bagaimana jika kami belum mampu mengamalkan ilmu yang sudah didapat, bolehkah kita […]

Ustadz, mohon nasehatnya! Ana termasuk orang yang malas memberi nasehat inkarul munkar […]

Apabila seseorang berniat baik, mentahdzir/memperingatkan si fulan dari kejelekan berdasarkan berita-berita yang […]

Bagaimana kalau pihak waliyul amr/pihak penguasa yang memboikot (hajr)? Apakah otomatis itu […]

Apakah konsekuensinya setelah tahdzir itu sama antara tabdi’/vonis mubtadi’ dengan yang bukan?

Kirim Pertanyaan

Kirim via WhatsApp